Archive for Juni, 2012

“Yang Jujur Bakalan Ancur”, ??Siapa Bilang?

“Udahlah gk usah munafik!! kalau gk lulus baru tahu rasa!!”,, itu tadi sedikit kutipan kalimat yang biasa diucapkan oleh suatu kelompok yang bernama pecundang dalam rangka mengajak pihak yang ingin mencoba jujur saat ujian untuk mengikuti jejak mereka menjadi pecundang.

Di jaman yang serba modern ini, ungkapan ” orang yang jujur bakal ancur” sudah menjadi trend dikalangan masyarakat,, yang sangat memperihatinkan adalah bahwa sindrom aneh ini bukan sekedar menjangkiti orang- orang awwam yang buta pendidikan tetapi juga turut menjangkiti kalangan akademisi, pejabat- pejabat berdasi, para elite politik, dan masih banyak lagi yang  justru mereka notabene memiliki riwayat pendidikan yang bisa di bilang waww..

Tumpulnya pendidikan dari nilai- nilai moral di era ini sungguh telah memporak- porandakan kesejahteraan bangsa.

Kebiasaan tidak jujur telah membudaya dan mengakar di kalangan masyarakat kita. Entah sejak kapan dan dari mana sumbernya, yang pasti ini adalah PR kita bersama untuk sam- sama memperbaikinya.

Terkait masalah ungkapan ” orang yang jujur bakalan ancur!”, saya mempunyai cara pandang tersendiri. Menurut saya kata- kata itu tidak lain hanya keluar dari mulut orang- orang yang tidak siap terhadap tantangan hidup. Orang- orang yang sedang menumpulkan kemampuan dan skill– nya yang sejatinya tajam. Ketidaksiapan ini tidak lain muncul dari suatu sifat yang kita sebut ” Malas”. Sifat ini sangat sulit dihindari kecuali oleh orang yang memiliki niat dan keyakinan yang kuat.

Seperti yang telah saya ungkapkan sebelumnya bahwa ungkapan aneh di atas hanya akan keluar dari mulut orang- orang yang tidak siap lahir dan batin terahadap tantangan hidup yang ada. Yang harus kita garis bawahi di sini adalah kata “Tidak siap”, ketika kita secara individu tidak siap maka apapun itu bentuk bantuan yang berasal dari luar tidak akan bisa membuat kita menjadi siap secara individu. Justru sebaliknya akan membuat kita semakin ketergantungan kepada segala bentuk bantuan tersebut. Orang macam ini tidak akan bisa dibiarkan hidup mandiri, hidupnya hanya kan menjadi beban orang lain, mengganggu orang lain, dan lama- kelamaan akan membuat orang menjadi sebal dan benci padanya. Orang seperti ini tidak akan membawa manfaat di manapun dia berada, dan kita harus ingat bahwa konsep  kehidupan mengajarkan kita bahwa orang yang tidak bermanfaat bagi orang lain tidak akan bisa diterima di dalam masyarakat dan suatu saat dia akan hidup terasing dan kemudian punah–prinsip seleksi alam. Nah yang jadi pertanyaan adalah bisakah orang macam itu memberi manfaat bagi orang lain sedangkan dia tidak bisa sedikitpun bermanfaat bagi dirinya sendiri?? tentu kita semua tahu jawabannya –-it’s retorical question.

Memang banyak orang  semacam  ini merasa aman- aman saja degan tindak- tanduk mereka yang demikian, bahkan terus menerus membudidayakan hal tersebut dalam hidupnya yang omong kosong. Mereka mengira bantuan akan terus- menerus datang menyelamatkan hidupnya tanpa harus berusaha.. Eitsss,, hari gini amat sangaaat jarang–bahkan mendekati tidak ada, kalau istilah kalkulusnya limit— orang yang mau terus memberi tanpa ada timbal baliknya.

Ketidaksiapan orang macam ini akan membuat orang ini sibuk melakukan tipu daya, berbohong, dan berdusta.. Padahalkan sudah hukum alam bahwa ” sepintar- pintarnya manusia menyembunyikan bangkai akan tercium juga baunya”,,jadi cepat atau lambat tipu daya mereka  yang merugikan orang lain itu akan terbongkar dan hal itu akan membuat orang- orang menjadi benci, tidak percaya, dan menghujatnya habis- habisan. Kalau sudah begini para pecundang ini akan bilang “emang gue pikirin orang- orang pada benci sama gue yang penting gue heppi..”,,–hellooo, emang situ bisa hidup sendiri, hidup dijauhi orang serta diasingkan,,–haduh menderita– kalau posisinya gak salah sih gk masalah, tapi kalau salah ya hidupnya bakal tambah payah dan penuh rasa bersalah walaupun toh terus kamu tutup- tutupi,, mereka  kan tetap manusia yang sudah jadi hukum bahwa ketika melakukan kesalahan maka ia akan merasa takut,,–lain kalau malah merasa tidak bersalah sama sekali ##wahh kacauu berarti bukan manusia dong..

bisa kita bayangkan betapa menderitanya hidup orang yang tidak jujur–sebenarnya— tapi tentu saja mereka tidak menyadari hal itu sampai akhirnya lapuk termakan usia dan mati sebagai seorang pendusta. Yang paling kejam adalah lelakon membohongi diri sendiri ituloh saudara- saudara..##wah payah,, siapa sih di dunia ini yang mau dibohongi termasuk diri sendiri??

Lebih baik jujur, meskipun kadang harus bersusah- susah di awal tapi hasilnya akan memuaskan diri lahir dan batin,, membawa ketenangan hidup dan sikap berani apapun tantangan ayang akan dihadapi,, –-survival of fittest ‘yang kuatlah yang akan bertahan’..

so, masihkah Anda berpikir bahwa jujur itu bakalan ancur,,__up to you bro, life is choice’ 🙂

Iklan

Aktivis Dakwah Kampus Itu?????

              Image                 Image                   

   Seorang aktivis dakwah bukanlah sekedar kumpulan wanita-wanita berjilbab lebar serta kumpulan laki- laki bercelana cingkrang atau menggantung. Saudaraku, sungguh bukan sekedar itu. Penampilan tidak lebih penting daripada akhlak atau perilaku yang seorang aktivis contohkan kepada masyarakat luas yang notabene masih ‘ammah’. Kadang seorang aktivis merasa cukup hanya dengan dengan jilbab lebarnya dan celana menggantungnya, merasa cukup karena bisa meng-update- status berbau islam di akun facebook yang entah copas dari mana, atau merasa puas dengan jenggot yang lebat atau dengan memakai jaket ala anak- anak LDF atau organisasi Islam lainnya. Sungguh bukan sekedar itu saudaraku.

Percuma apabila seseorang yang sudah beratribut layaknya seorang muslim yang kaffah. Namun, masih sangat buruk dalam menjaga tindak- tanduk serta sikapnya dalam kehidupan sehari- hari termasuk hubungan antara laki- laki dan perempuan yang pada hakikatnya Islam sangat memperhatikan hal itu. Karena kita harus sadar bahwa melalui aktivis Islam dapat berjaya dan karena aktivis pula Islam bisa hancur. Kita harus ingat bahwa sedikit saja fitnah terjadi di kalangan aktivis dapat menjadi senjata yang ampuh bagi orang-  orang kafir untuk menjatuhkan Islam.

Seorang aktivis dakwah kampus sebaiknya bukan hanya sibuk mengurusi kegiatan- kegiatan kajian atau pengajian saja. Sibuk syuro’ sana- sini, sibuk ceramah sana- sini. Tidak salah- salah, jilbab yang dipakai oleh kaum akhwatnya hampir menyentuh tanah, subhanallah. Bukan saya sirik atau melarang mereka berpakaian seperti itu, demi Allah bukan Saudaraku. Tapi ada hal yang sering saya alami yang membuat saya agak kecewa dengan beberapa atau bahkan banyak oknum berjilbab sangat lebar ini. Betapa tidak? mereka justru sering berbincang- bincang seputar ” ikhwan”– pujaannya ketika berkumpul dengan teman- temannya yang sejenis. Astaghfirullah,, sungguh kejadian seperti ini sangatlah marak di kalangan aktivis dakwah kita. Ini tentu merupakan kondisi yang sangat memprihatinkan.

Kebanyakan aktivis yang justru dengan julukan ”alim” dari teman- temannya, menjadi lalai, angkuh diri, dan besar kepala. Bukannya sibuk memperbaiki amalan malah sibuk mencitrakan kebaikan dirinya dihadapan teman- temannya.

Yang lebih memperihatinkan lagi, tidak sedikit ” ikhwan wal akhwat yang jadi sering sms-an dengan alasan urusan organisasi”. Wallahu’alam, tapi yang jelas semua itu berpotensi merusak kesucian hati kita. Tidak hanya itu, keseringan syuro’ dengan lawan jenis juga tidak baik loh, apalagi kalau menejemen syuro’-nya kurang bagus atau bahkan buruk. Bukannya syuro’ malah banyak bercanda dan ketawa- ketiwi dengan nada yang  mendayu- dayu githu bikin lawan jenis jadi “gimana gitchu..!!”,,##STOP!!!

Akh, Ukh, Ana, Anti, Antum,, blaa..blaa..blaa # weleh- weleh???

Ditambah lagi seringnya pihak LDK mengadakan acara yang mengundang “para aktivis” ini. Hal itu sebenarnya  bagus, tapi, ada tapinya :))

Acara ini sangat sering mencampurkan antara si ikwan wal akhwat dalam satu ruangan tanpa hijab atau pembatas yang dapat menghindari atau setidaknya meminimalisir pandangan- pandangan haram.

waktu ditanya kenapa,  jawabnya ” susah dek kalau harus pake’ hijab segala, perlengkapan kita kan terbatas..”, kalau begitu kenapa tidak dipisah saja, acara ikhwan sendiri dan acara akhwat sendiri githu sehingga bisa lebih terjaga,,jawabnya ” susah cari pembicaranya dek”,, weleh..weleh, meneladani rasul kok setengah- setengah.

mungkin hal itu dianggap remeh oleh sebagian pihak, kita tidak menyadari bahwa Rasulullah pun mengatakan bahwa syahwat itu adalah nafsu yang sangat berbahaya apabila tidak dipelihara dan dijaga dengan baik serta hati- hati,,

Akibat yang ditimbulkan dari ber-ikhtilat  ini bisa jangka pendek atau jangka panjang,, bahkan bisa- bisa mengganggu atau mencemari niat kita,,##let’s correct it!!

Dengan tidak adanya hijab, sudah tentu peluang untuk saling pandang menjadi sangat luas,, setan akan dengan sangat mudah mengajak kita untuk sekedar tengok kanan, tengok kiri dan akhirnya —ssstttt– pas tengok ke arah ikhwan eh ternyata ada juga ikhwan yang sedang melihat ke arah kita– waduh bahaya– akhirnya saling pandang dwech,,pandangan yang pertama masih dimaklumi karena dianggap rahmat- ya kalau yang dilihat cakep kalau jelek?? :P– tapi kalau disengaja lain lagi ceritanya,,  tidak cukup sampai di situ,, si syaithan terus memprovokasi kita untuk melakukan pandangan yang kedua karena pandangan pertama dirasa nikmat,,–wess bubar!!

Apalagi kalau ada sesi tanya jawab,, biasanya kelakuan para JIL- Jaringan Ikhwan Lebay–, ketika ada akhwat yang bertanya atau menanggapi dengan isi pertanyaan atau tanggapan yang  cukup  berbobot,  si JIL ini seringnya pura- pura  mengucapkan takbir sambil nyengar- nyengir dengan maksud memuji pendapat atau pertanyaan si akhwat,, nah ada akhwat yang justru malu dengan pujian ini,, ehhh tapi ada juga loh yang seneng,, jadi di kesempatan- kesempatan selanjutnya si akhwat pun jadi sangat sering bertanya untuk sekedar di lihat si dia,,–kabuuuurrrrrr!!!

Dan masih banyak lagi kesalahan- kesalahan fatal yang dianggap remeh yang harus segera kita tanggulangi dan kita berantas!!!

Untuk itu, mari kawan- kawan -yang masih merasa aktivis serta merasa berkepentingan untuk mamperbaiki citra ummat Islam– kita sama- sama bahu membahu menuntaskan penyimpangan ini,, sedikit- demi sedikit pun jadi, semua berawal dari kita..

semoga artikel ini bermanfaat dan bisa membuat kita untuk terus semangat melakukan perubahan,,

ALLAHUAKBAR!!!

HIDUP MAHASISWA,,!!!!

                                                           

“Soal Material Balance Praktikum Kimia Organik”

Direaksikan Na- Benzoat (C6H5COONa) murni sebanyak 6 ml dengan HCl pekat (1M) sebanyak 40 ml. Produk utama dari reaksi ini adalah Asam Benzoat (C6H5COOH) dan produk samping berupa NaCl dengan % error sebesar  45 %. Asam benzoat ini kemudian direaksikan dengan  etanol (C2H5OH) 70% sebanyak 15 ml. Sedangkan NaCl (Aqueous) dielektrolisis menggunakan elektrode C. Kemudian gas yang dihasilkan dari reaksi tersebut direaksikan dengan gas O2 sebanyak 5,6 L pada keadaan STP.

Diketahui Mr ; C6H5COONa(144 gr/mol); C2H5OH(46 g/mol)

Massa jenis  Na- Benzoat = 1,44 g/ ml

Diketahui SPGR :

Etanol = 0,790

Ditanya :

a)      Hitunglah massa masing- masing produk pada masing- masing reaksi.

b)      Buatlah tabel MB reaksi pertama

Jawab :

a)    Perhitungan MB

1)      Mol Na- Benzoat (C6H5COONa)

Massa Na- benzoat = 6ml x 1,44 g/ml = 8,64 g

Mol = n/Mr = 8,64 g/ 144 g/mol = 0,06 mol

2)      Mol HCl (1 M) 40ml

n = M x V = 1mol/ L  x 4 x 10-2L = 4 x 10-2 mol= 0,04 mol x 36,5 g/mol=1,46 g

3)      Reaksi 1(teori)

C6H5COONa +   HCl           ->  C6H5COOH +  NaCl

0,06 mol          0,04 mol                 –                   –

0,04 mol          0,04 mol           0,04 mol        0,04 mol

0,02 mol               –                       0,04 mol         0,04 mol

4)      Massa produk teori

C6H5COONa (sisa) = 0,02 mol x 144 = 2,88 g

C6H5COOH = 0,04 mol x 122 g/mol = 4,88 g

NaCl = 0,04 mol x 58,5 g/mol = 2,34 g

5)      Diketahui % error 45%

% yields =  % konversi = 100% – 45% = 55%

%konversi = (BBB/ 0,04 mol) x 100% = 55% à BBB = 0,55 x 0,04 mol = 0,022mol

6)      Reaksi 1 (praktek)

C6H5COONa +   HCl           ->    C6H5COOH      +    NaCl

0,060 mol          0,04 mol                 –                       –

0,022 mol          0,022 mol       0,022 mol        0,022mol

0,038 mol          0,018 mol       0,022 mol         0,022 mol

7)      Produk yang sesungguhnya dihasilkan

  • (C6H5COOH (P) / 0,04 mol) x 100% = 55%

C6H5COOH (P) = 0,55 x 0,04 mol =0,022 mol = 0,022mol x 122 g/ mol =2,68 g

  • (NaCl (P) / 0,04 mol) x 100% = 55% =0,05

0,55 x 0,04 mol = 0,022mol = 0,022mol x 58,5 g/mol = 1,29 g

  •  C6H5COONa (sisa)

0,038 mol = 0,038mol x 144 g/mol = 5,47 g

  • HCl (sisa) = 0,018 ml x 36,5 g/mol=0,66 g

8)      Mol etanol (C2H5OH)

m = V x % x 0,996 g/ml x SPGR = 15 ml x 0,7x 0,996 g/ml x 0,790 = 8,26 g

n = m/Mr = 8,26 g/ 46 g/mol =0,1796 mol

9)      Reaksi

C6H5COOH  +    C2H5OH          ->   C6H5COOC2H5   +  H2O

0,0220 mol      0,1796 mol                        –                      –

0,0220mol       0,0220mol               0,0220 mol            0,0220 mol

–                             0,1576mol               0,0220 mol             0,0220 mol

10)   Massa produk reaksi 2:

C2H5OH(sisa) = 0,1576 mol x  46  g/mol = 7,25 g

C6H5COOC2H5 = 0,0220 mol x 150 g/ mol = 3,3 g

H2O = 0,0220 mol x 18 g/mol = 0,396 g

11)   Elektrolisis Larutan NaCl

NaCl (Aq) à Na+ (Aq) + Cl (Aq)

Katode (C) : 2H2O (l)  + 2e-  -> 2OH(Aq) + H2(g)

Anode (C)  : 2Cl(Aq) -> Cl2 (g) + 2e-

2 NaCl (Aq) + 2H2O (l)  -> 2Na+ (Aq) + 2OH(Aq) + H2(g)  + 2Cl2 (g)

12)   Mol gas H2 = ½ mol NaCl= ½ x 0,0220 mol = 0,0110 mol

13)   Mol gas O2 (pada STP)

(n mol / 1) x 22,4 L = 5,6 L à n = 0,250 mol

14)   Reaksi 3

H2(g)               +      O2(g)                ->     H2O(g)

0,011 mol           0,250 mol                –

0,011 mol           0,011 mol           0,011 mol

–                              0,239 mol           0,011 mol

15)   Massa produk reaksi 3

O2 (sisa) = 0,239 mol x 32 g/mol = 7,65 g

H2O(g)   = 0,011 mol x 18 g/mol =0,198 g

b)             Tabel MB reaksi 1

Tabel teori

Nama Zat

Input

Output

Gr

%

Gr

%

Na- Benzoat 8,64 85,5 2,88 29,0
HCl (pekat) 1,46 14,5
Asam Benzoat 4,88 48,0
NaCl 2,34 23,0
10,10 100 10.10 100

Tabel praktek

Nama Zat

Input

Output

Gr

%

Gr

%

Na- Benzoat 8,64 85,5 5,47 54,2
HCl (pekat) 1,46 14,5 0,66 6,5
Asam Benzoat 2,68 26,5
NaCl 1,29 12,8
10,10 100 10.10 100

Mendaki Di Bukit Cinta

“brukk..!!”, gadis kurus itu menjatuhkan lagi buku-buku yang dia bawa. Setelah kuhitung-hitung ini adalah kali ke-3 Aku bertemu dengan gadis itu sejak tiga bulan kuliah di sini serta menjadi kali ke-3 pula bagiku mendapati buku-buku yang dibawanya jatuh berserakan di tanah. Aku tak mengerti apakah sengaja dijatuhkan atau memang tidak sengaja. Ahh, tak penting itu,, yang terpenting sekarang adalah Aku harus segera membantu gadis itu memunguti buku-bukunya yang jatuh berserakan karena kulihat buku yang di bawa kali ini jauh lebih banyak dari yang biasa kulihat. Selain Aku banyak mahasiswa lain yang juga melihat kejadian itu. Namun, mereka terlihat biasa saja dan terus asyik dengan kegiatan mereka masing-masing tanpa peduli kalau di hadapan mereka ada orang yang sedang membutuhkan bantuan. Bukan hanya itu, beberapa dari mereka justru tertawa renyah dengan ekspresi wajah penuh ejekan melihat apa yang terjadi pada gadis itu. Aku bergegas ke arahnya dan mulai memunguti buku-buku itu beberapa bukunya kotor terkena tanah basah. Aku melihat dari dekat wajah gadis kurus itu, wajahnya terlihat gugup, keringatnya bercucuran. Kurasa hari ini tidak terlalu panas seperti biasanya malah tadi pagi sempat hujan sehingga hawanya pun menjadi dingin.
Gadis itu menatapku dan tersenyum agak lama. Kurasa Ia masih ingat dengan wajahku. “Kok, bukunya jatuh lagi mbak???”, tanyaku sambil tersenyum. Dia hanya membalasnya dengan senyuman seperti pada kali pertama kami bertemu. Saat itu buku-buku yang di bawanya jatuh di depan lembaga bahasa. Padahal Aku berharap Ia memberikan respon yang lebih dari itu. Tapi sepertinya Ia memang gadis yang pendiam. “Mau di bawa kemana buku-bukunya mbak?? Mau dibantu?” imbuhku berusaha agar lebih akrab.”Oh, mau di pindahkan ke perpus. Tidak usah mbak, terimakasih, nanti merepotkan.”jawabnya sambil tersenyum kecil. Kemudian Dia mengangkat buku-buku itu dan bergegas untuk pergi setelah terlebih dulu mengucapkan terimakasih padaku. “Eh mbak, tunggu!! Namanya siapa??”, selorohku ketika melihatnya beranjak pergi.”Nama saya Nurma, nama mbak siapa??” dia balik bertanya.” Saya Aisyah, lain kali hati-hati ya??” jawabku sambil tersenyum. Ia membalas tersenyum kemudian pergi dengan langkah yang tergesa-gesa. Perpustakaan sudah dekat.
Namanya Nurma, Aku tak sempat bartanya apakah dia mahasiswa juga atau hanya bekerja di sini? Sebenarnya tadi Aku ingin menanyakan hal itu padanya. Tapi tampaknya Ia sedang buru-buru, Aku takut mengganggunya.
***
Suara langkah suster mengagetkanku dan membuyarkan lamunanku. Tanpa kusadari mataku basah, baru saja Aku menangis. “Permisi mbak, pasien akan diperiksa.” Ucap suster cantik berjilbab hijau itu sambil tersenyum kepadaku. Dia segera mengenakan stetoscope yang dibawanya dan mulai memeriksa shahabatku yang sedang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Dia terlihat semakin kurus. Hanya doa-doa yang bisa Aku berikan. Aku berharap Ia tahu betapa Aku ingin dia sembuh seperti sediakala. Aku berharap Allah swt selalu menguatkannya dan meninggikan derajatnya serta menghapuskan dosa-dosanya. Wahai shahabat,tersenyumlah untukku!!
“Bagaimana keadaannya sus?”, tanyaku segera setelah suster selesai memeriksa. “Semuanya akan baik-baik saja. Insya Allah Ia akan segera sembuh. Doakan saja!”, jawab suster itu mencoba meyakinkanku. Kemudian Ia mohon diri setelah memberikan beberapa pesan padaku. Dia memang suster yang baik, Aku bersyukur temanku dirawat oleh suster sebaik dia. Meskipun suster tadi sudah berusaha meyakinkanku bahwa keadaan Nurma akan baik-baik saja tapi tetap saja Aku masih belum tenang. Hingga saat ini sejak dua hari yang lalu Nurma dirawat di sini setelah jatuh tak sadarkan diri di kampus dengan hidung yang mengeluarkan darah, dokter belum juga memberitahukan penyakit apa yang sebenarnya diidap oleh shahabatku ini. Aku kembali menyeka air mata yang masih terus menetes dari kedua mataku. Aku sangat takut kehilangannya. Aku sangat tahu betapa selama ini Nurma terus hidup dalam cobaan dan penderitaan. Betapa Ia begitu sabar menghadapi semua rintangan berat hidup sejak Ia kecil. Shahabat yang selalu membuatku malu atas nikmat-nikmat yang Aku punya. Betapa Ia selalu membuatku sadar akan pentingnya syukur itu. “Ya Rabb, sembuhkanlah dia dan bahagiakanlah dia..”,itulah yang selalu Aku pinta dalam setiap doaku dan di setiap sujud malamku.
***
Sejak pertemuan itu , Aku jadi penasaran ingin lebih mengenalnya. “Nurma”, itulah nama yang sering Aku tanyakan pada petugas-petugas yang kukenal setiap kali Aku datang ke perpustakaan dan anehnya setiap kali Aku bertanya mereka mengatakan tidak kenal dengan yang namanya Nurma itu. Apakah mungkin Ia pegawai baru atau memang bukan pegawai perpus? Karena saat bertemu waktu itu pakaiannya tidak terlihat seperti pegawai. Hingga pada suatu hari Aku bertanya pada seorang petugas perpus bernama Nana, Aku memanggilnya mbak Nana, yang kebetulan sedang shalat di mushala perpus. “Oh,Nurma?? Kenal, Dia itu bukan pegawai. Dia mahasiswa baru di fakultas keguruan. Dia memang sering bantu-bantu mbak di sini kalau sedang tidak ada kuliah atau sedang tidak kerja.” Jawabnya mencoba menjelaskan.” Lho, memang dia kerja apa mbak?” “Dia bekerja paruh waktu di rumah makan dekat tempat kosnya, katanya untuk tambahan uang makan.”,” Dia kos di mana mbak? Oh ya, mbak sudah lama kenal Nurma??” imbuhku ingin lebih tahu.” Tempat kosnya tidak jauh kok, di permata. Mbak belum lama kenal Nurma, kasihan Dia.” Ekspresi wajahnya berubah sedih, matanya berkaca-kaca. Aku tak mengerti mengapa bisa begitu. “Kasihan kenapa mbak?” Aku penasaran. “Ah, tidak apa-apa.”jawabnya datar sambil berusaha tersenyum. Mbak Nana pun segera mohon diri karena  harus segera kembali bekerja. Mbak Nana pergi dengan meninggalkan sejuta tanya dan penasaran dalam hatiku akan pernyataannya tadi.

***

Kata suster kemarin, hari ini dokter akan memberitahukan padaku apa yang sebenarnya terjadi pada Nurma dan penyakit apa yang sebenarnya sedang Ia derita hingga membuatnya tak sadarkan diri selama hampir tiga hari ini. Waktu sudah menunjukkan pukul 08.16 WIB, terdengar seorang mengetuk pintu ruangan. Aku berharap yang mengetuk itu pak dokter . Aku bergegas membukanya. Ternyata benar, dokter Ahmad datang bersama dua orang suster. Beliau masuk denagn mengucap salam terlebih dahulu. Aku mempersilakannya masuk. Tanpa berlama-lama dokter Ahmad pun langsung memberitahukan kepadaku hasil test laboratorium mengenai penyakit apa yang sebenarnya diderita Nurma selama ini, dan betapa hancurnya hatiku ketika mendengar pernyataan dokter Ahmad bahwa Nurma mengidap kanker sel darah putih (leukemia). Tiba-tiba saja kakiku kehilangan tenaga untuk berdiri. Semua ototku lemas seakan-akan baru saja tersengat listrik beratus-ratus watt. Aku hampir saja jatuh tersungkur. Kedua suster itu langsung memegangi tubuhku yang kurasa sudah tidak berdaya lagi. Bibirku terus berucap istighfar, lirih. Dokter Ahmad dan kedua suster itu mencoba menguatkanku agar menerima semua ini. Mereka terus mencoba menghiburku. Air mataku terus meleleh, terus, terus, dan semakin deras. Kedua suster tadi memapahku ke kursi dekat ranjang Nurma dan memberiku segelas air putih. Dokter kemudian memeriksa Nurma dan kemudian pergi setelah melihat keadaanku yang sudah lebih tenang.

Tinggal Aku dan Nurma yang masih terkapar di ranjangnya,tanpa mau membukakan matanya sedetik saja untukku, sedetik saja mendengarkan ceritaku, dan sedetik saja mengatakan padaku apa yang sebenarnya Ia rasakan. “Ya Allah..!!!”, Aku memekik dalam hati. Sungguh tak bisa kubayangkan betapa menderitanya Nurma selama ini. Bergelut dengan penyakit yang sampai sekarang tidak Ia ketahui. Penyakit yang selama ini telah merenggut kebahagiaan kecilnya di antara begitu banyak cobaan lain yang menimpanya. Ya Allah, andai saja bisa maka Aku akan meminta padaMu untuk memindahkan penyakit itu padaku saja, supaya penderitaan Nurma berkurang.
Betapa salut Aku padanya. Selama empat tahun bersahabat denganku, tidak sedikit pun Ia mengeluh tentang kehidupannya. Sungguh rasa syukur dan ketegarannya selalu membuatku malu di hadapan Tuhan. Aku malu dengan semua nikmat yang Aku punya. Aku tidak pantas memilikinya ya Rabb..
Aku terus menangis memanggil-manggil namanya berharap Ia segera bangun dan menghapus air mataku yang tak berhenti menetes sejak tadi. “Nurma bangunlah!!!apa Akku sudah bersalh padamu sehingga kau menghukumku begini, tidak mau bicara padaku!!,,bangun Nurma, cepatlah sembuh! Agar kita bisa bersama lagi, berdakwah lagi, dan..hiks,hiks!!!”, Aku tak kuat lagi melanjutkannya. Tapi kulihat Ia diam saja, tak merespon apa-apa, Ia tetap tak mau bangun.

Tiba-tiba pintu terbuka. Ada seseorang yang masuk, ternyata mbak syifa. “Assalamualaykum.”, ucapnya. “Wa,..wa’alaykumsalam..”, jawabku parau. Mbak Syifa memandangku heran dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi hingga membuatku menangis tergugu seperti itu. Aku pun langsung menghambur kearahnya, Ia terlihat semakin bingung. “Ada apa Aisyah?? kenapa begini??”,” Nurma mbak, Nurma..hiks,hiks!!”, “Iya,ya, Ada apa dengan Nurma, katakan dengan tenang sayang..!”, pintanya dengan menenangkanku.”Nurma, Nurma kena Leukemia mbak?? Dokter yang bilang padaku..hiks..hiks.” “Astaghfirullah, maafkan mbak dek, mbak tidak tahu kalau penyakit Nurma separah itu. Mbak ikut bersedih atas apa yang menimpa Nurma. Maafkan mbak baru bisa menjenguk sekarang.” Ucapnya menyesal.” Tidak apa mbak,..”, “Apakah sudah ada perkembangan?? Lalu apa kata dokter mengenai peluang kesembuhannya??” “Tidak tahu mbak, dokter belum mengatakan apapun tentang itu,,Aku sendiri tidak tahu apakah Nurma bisa sembuh atau tidak..hiks..hiks!!”
“Istighfar dek, tidak boleh kita berputus asa dari rahmat Allah! Masalah kesembuhan itu hal yang mudah bagi Allah jika Dia menghendaki,,percayalah dek!!”. Aku sadar bahwa Aku baru saja meragukan kebesaran Allah. Ampuni Aku ya Rabb. Aku terus beristighfar memohon ampunan padaNya dan berharap Dia segera menenangkan hatiku.
Adzan Ashar pun berkumandang. Mbak syifa segera mengajakku shalat supaya lebih tenang. Kami lalu shalat berjamaah. Seusai shalat Kami berdzikir dan berdoa bersama untuk kesembuhan Nurma. Selesai berdoa mbak syifa mengajakku berbincang untuk mencairkan suasana.
“Sudah beritahu bibinya?”, “Belum mbak, saya rasa belum saatnya. Saya khawatir hal itu justru akan menambah beban Nurma mbak.”,”Tapi mereka berhak tahu Aisyah..!”, “Saya tahu mbak, saya pasti akan beritahu beliau tapi tidak sekarang. Tunggu waktu yang tepat.”
“Ehm,mbak, ada yang ingin saya sampaikan..?”, “Tentang apa? Sampaikan saja?”
“Nurma sering bercerita pada saya bahwa dia sangat ingin menyempurnakan separuh diennya sebelum ajal menjemputnya. Saya yakin itu adalah salah satu keinginan besarnya. Apalagi jika Ia tahu apa yang sedang Ia derita. Saya rasa sekaranglah saatnya mbak, mewujudkan niat baiknya itu sebelum terlambat.”
“Ia dek mbak sangat mengerti itu. Setiap orang pasti ingin menyempurnakan separo dinnya termasuk Nurma. Lalu bagaimana caranya?”
“begini mbak, saya yakin mbak sudah lebih berpengalaman dari pada saya dan mbak pasti punya lebih banyak kenalan. Saya ingin minta tolong sama mbak, itu pun jika mbak tidak keberatan.”
“Tolong apa dek? Insya Allah mbak akan berusaha bantu.”
“Tolong carikan calon untuk Nurma mbak sekalian ustadz atau ustadzah yang kira-kira mau menjadi wali untuk akad nikahnya mbak. Saya berharap sekali mbak syifa mau bantu saya. Karena saya rasa inilah cara yang bisa saya lakukan untuk membantu mewujudkan mimpinya mbak, jika memang kemungkinan terburuknya adalah Nurma tidak bisa sembuh mbak..”
“Bukannya mbak keberatan dek! Tapi akan sangat sulit mencari ikhwan yang mau menerima seorang akhwat seperti Nurma sebagai istrinya dek?”
“Kenapa mbak???Nurma itu gadis yang sholeha, baik pekertinya. Saya rasa dunia ini belum kehilangan seorang yang taat dan mencintai Tuhannya. Saya mohon mbak, ini demi kebahagiaan Nurma. Saya yakin pasti ada yang mau menerimanya mbak.”, pintaku berusaha meyakinkan mbak syifa, meskipun jauh di dalam hatiku pun memendam keraguan sebagaimana yang sedang dirasakan mbak syifa. Aku jadi berpikir lagi. Melihat keadaan Nurma yang seperti ini Aku pun tak tahu apakah akan ada seorang ikhwan yang mau dengan tulus menerimanya. Dalam hati Aku terus berharap Allah segera memberikan jalan petunjuk, dan Aku yakin Allah pun selalu menginginkan kebahagiaan untuk Nurma sahabatku lebih dari yang Aku inginkan.
“Baiklah dek, akan mbak usahakan. Doakan saja supaya mbak segera menemukan seorang laki-laki tulus perindu surga untuk Nurma. Mbak pun ingin Dia bahagia sama seperti harapanmu padanya.” Ucap mbak syifa tegas menyatakan kesediaannya.
Kata-kata mbak syifa tadi membukakan sebuah harapan baru untukku. Tapi bukankah sebagai seorang mukmin sejati sudah seharusnya Aku selalu berharap dan percaya pada kekuasaan Allah yang begitu besar kepada hamba-hamba-Nya.

***
Malam ini mbak Syifa akan menemaniku menjaga Nurma. Aku senang sekali. Apalagi Intan baru saja sms bahwa dia dan rombongan Rohis FKIP akan datang menjenguk besok pagi. Bukan hanya itu, Allah memberikan kejutan lagi untukku. Aku mendapat telepon dari pihak BEM universitas yang memberitahukan bahwa pihak rektorat dan BEM siap membantu biaya perawatan Nurma selama dirawat di rumah sakit. Tentu ini semua berkat kasih sayang Allah melalui usaha rekan- rekan kami di BEM yang terus memberikan support untuk kesembuhan Nurma. Selain cerdas, Nurma juga mempunyai kepribadian yang sangat baik sehingga tak heran jika banyak orang yang sayang dan simpati padanya, termasuk Aku. Aku terus mengucap syukur dalam hati.
***
Kejutan-kejutan Allah terus mengalir untukku, dan yang paling membahagiakanku adalah ketika Aku dan mbak Syifa usai shalat tahajjud. Kami kemudian membaca Al-Qur’an bersama di samping Nurma. Ketika Nurma belum sakit begini, kami selalu baca Qur’an bersama, dan itulah yang selalu Aku rindukan. Saat kami sedang menghayati keindahan firman-firman Tuhan itu, tiba-tiba kami dikejutkan dengan pemandangan yang membuat hatiku berdegup kencang karena kebahagiaan yang tiada tara. Ya, untuk pertama kalinya, sejak tiga hari yang lalu, Nurma menggerakkan tangannya sedang bibirnya berucap menyebut nama Tuhannya. Subhanallah, inilah jawaban dari doa-doaku, doa-doa kami. Inilah kekuatan doa. Terimakasih ya Rabb.
Aku dan mbak syifa langsung mendekatinya dan memanggil- manggil namanya supaya Ia segera sadar. Matanya terbuka perlahan-lahan, bibirnya terus mengucap nama Allah. Sahabatku benar-benar telah sadar. Kini Ia menatapku. Sungguh tatapan yang sangat Aku rindukan.
“Nurma, ini Aku Aisyah, kamu sudah sadar Nur?”, Aku mencoba mengajaknya berbicara.
“Aku sakit apa syah?”, tanyanya agak terbata-bata.
“Kamu tidak sakit apa-apa dek, Insya Allah kamu akan segera sembuh.”, mbak Syifa yang menjawabnya, dia tahu bahwa Aku pasti akan sulit menjawab pertanyaan itu. Benar, Aku sungguh tak mampu berbohong padanya sebagaimana dia tak pernah berbohong padaku.
“Sudah berapa hari Aku tidak sadar? Aku belum shalat mbak? Aku takut jika tiba-tiba saja umurku berakhir.”, ucapnya ketakutan.
“Nurma dengarkan Aku, kamu akan baik-baik saja. Kamu akan menikah dan hidup bahagia. Kamu tidak boleh bicara seperti itu. Kami semua berharap kamu segera sembuh.” Aku tak kuasa menahan tangis mendengar ucapannya itu
“Maaf syah, Aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Demi Allah Aku hanya takut jika sewaktu-waktu Tuhan memanggilku sedangkan Aku tidak siap apapun. Kurasa semua orang akan memikirkan hal yang sama jika berada di posisiku.”
“Sudah Nurma, Kamu tidak boleh banyak bicara dulu. Istirahatlah! Insya Allah semua akan baik-baik saja.”, bujuk mbak Syifa.
“Aku akan segera panggil dokter.”, Akupun segera beranjak memanggil dokter untuk memeriksa kondisi Nurma.
Dokter mengatakan bahwa kondisi Nurma kini sudah semakin membaik. Namun, ketika Aku bertanya mengenai peluang kesembuhannya, seperti biasa, dokter hanya bisa terdiam dan mengatakan bahwa pihaknya belum bisa memastikan apapun. Itulah kenyataannya dan Aku harus menerimanya.
***
Seperti janjinya, Intan bersama rombongan rohis FKIP datang menjenguk. Mereka menyatakan turut berbahagia melihat kondisi Nurma sudah semakin membaik. Tapi seperti biasa, setiap kali mereka bertanya tentang penyakit Nurma, Aku selalu diam. Bersyukur ada mbak Syifa yang bisa menetralisir suasana sehingga semua terlihat baik-baik saja. Nurma pasti akan sembuh. Aku hanya bisa mengaminkan dan terus berharap sambil menahan air mataku agar tidak menetes keluar.
Dari semua yang datang, Imran terlihat agak aneh. Sejak tadi dia diam saja, hanya sesekali berdiri kemudian duduk lagi di sudut ruangan. Tidak banyak yang melihat polahnya itu karena semuanya sedang sibuk menghibur dan memotivasi Nurma. Dari ekspresi wajahnya, Ia terlihat sangat sedih. Aku memang tidak seberapa kenal dia. Tapi setahuku adik mbak Syifa yang satu ini adalah seorang yang periang dan penuh semangat. Kami pernah satu organisasi selama dua tahun. Tapi kali ini berbeda, sejak tadi dia diam saja walaupun ada kakaknya. Ahh, sudahlah mungkin dia sedang ada masalah.
Memang kuakui, Aku sempat menaruh simpati pada ikhwan yang satu ini. Aku sempat dibuatnya kagum dengan prinsip hidupnya. Selain itu dia juga cerdas dan berwawasan luas. Aku tidak pernah memelihara perasaan itu. Aku adalah tipe orang yang tidak mudah jatuh cinta, tapi kalau sudah terlanjur mencintai seseorang sulit untuk melupakannya. Kurasa rasa kagum itu masih ada meskipun Aku tak pernah berusaha untuk mempertahankannya. Aku terus berdoa agar Allah senantiasa melindungiku dari jeratan nafsu yang menyesatkan.
Tak lama kemudian mereka pun pamit pulang.
***
Dua hari berlalu sejak Nurma sadar, sekarang Nurma sudah boleh pulang. Aku sangat senang begitu pun teman-teman yang lain. Dokter berpesan bahwa Nurma masih harus terus menjalani terapi. Masalah administrasi pun sudah selesai. Ini berkat bantuan teman-teman. Aku sangat apresiasi pada kepedulian mereka.
Sampai sekarang Aku belum juga berani mengatakan yang sebenarnya pada Nurma meskipun sudah berkali-kali Ia menanyakan hal itu. Aku takut jika Aku mengatakannya sekarang Nurma akan kehilangan semangat hidupnya dan itu akan memperburuk kesehatannya.
Tiba-tiba handphoneku berdering. Ada panggilan masuk. Ternyata mbak Syifa.
“Assalamualaykum mbak.”, “wa’alaykumsalam dek, mbak punya berita baik untukmu!”, kata-kata mbak Syifa membuatku penasaran. “Berita apa mbak?”
“Lagi-lagi Allah mengabulkan doamu dek. Laki-laki tulus perindu surga calon suami Nurma itu sudah mbak temukan!!!”. Berita ini sungguh kejutan. Allah memang maha pengabul doa.”Subhanallah,benarkah mbak?? Siapa dia mbak?Apakah saya boleh tahu?”
“Tentu saja. Laki-laki itu adalah Muhammad Imran Nugroho, adik mbak sendiri!!”
Aku bagaikan disambar petir di siang bolong. Laki-laki calon suami Nurma itu tidak lain adalah laki-laki yang selama ini Aku kagumi. Laki-laki yang selama ini Aku harapkan menjadi suamiku kelak. Dan ternyata..
Ya Allah cobaan apalagi ini?? Aku diam seribu bahasa. Tanpa terasa air mataku menetes. Badanku bergetar hebat.
“Hallo, Aisyah,,hallo??”
“Oh, i..iya mbak hallo..’’, “Kamu kenapa? Kamu tidak apa-apa kan? Kamu menangis ya?’’, Aku tahu mbak Syifa khawatir. “Tidak apa-apa mbak, Aku hanya terharu, ternyata masih ada lelaki semulia itu di dunia ini. Ehm, bagaimana dengan orang tua mbak??apa mereka sudah setuju?”
“Maha suci Allah, Orang tua kami adalah muslim yang hanif. Mereka tidak pernah melarang kami untuk berbuat kebaikan dalam rangka ibadah kepada Allah. Mereka justru sangat setuju dan sangat optimis bahwa Nurma akan segera sembuh.”
“Alhamdulillah kalau begitu mbak. Bagaimana dengan proses ta’arufnya mbak?”
“Kalau bisa segera dilaksanakan dek, mbak juga sudah mendapatkan seorang ustadz yang bersedia menjadi wali Nurma pada waktu akad nikah nanti..”
“Baiklah mbak, secepatnya saya akan beritahu Nurma.”
“Oke. Kalau begitu sudah dulu ya dek. Mbak masih ada keperluan. Nanti Insya Allah mbak telepon lagi. Assalamualaykum.”
‘’Wa’alaykumsalam mbak.”

Air mataku masih saja menetes. Aku bingung dengan perasaanku saat ini, di satu sisi Aku amat bahagia karena sahabatku akan segera menyempurnakan separo dinnya, tapi di satu sisi..
Jadi ini jawaban dari keanehan Imran kemarin itu. Imran menyukai Nurma, sahabatku..
Ya Allah Aku tak mengerti semua ini, ya Allah tolong Aku untuk keluar dari semua ini ya Rabb..
“Aisyah,kamu sedang apa jongkok di situ??”
Nurma sudah bangun, dia memanggilku. “Emm, tidak apa-apa, baru saja ada kecoa Nur, mau Aku usir supaya tidak masuk lemari, Ada apa?”, jawabku berusaha untuk tetap terlihat biasa saja. Aku menahan isak tangisku. Aku tak mampu menatapnya. Dia pasti akan sedih jika melihat Aku menangis.
“Oh, Aku kira ada apa. Ai Aku ingin cerita sesuatu. Kamu ada waktu?”
“Insya Allah ada Nur, nanti selepas shalat maghrib ya.., Sekarang Aku mau mandi dulu ,OK!!”
“OK, tapi mandinya jangan lama- lama ya..kan Aku juga mau mandi, hehe.”
“ OK deh Nurma sayang, nggak akan lebih dari sepuluh menit kok.” Selorohku sambil menarik handuk merahku tanpa menatapnya sedikitpun. Aku rasa mataku masih merah karena menangis tadi dan Aku tak ingin Ia tahu hal itu.

“ Eh, tadi katanya mau cerita, cerita apa???”
“Emm,.. “
“Ehm apa? ayolah jangan buat Aku penasaran.”
“ Tapi kamu jangan marah ya.., janji?”
“ Iya deh nggak bakal marah,, makanya cepet ceritanya!!”
“Ehm Syah..entah kenapa Aku merasa hidupku nggak akan lama lagi. Entah kenapa Aku tidak tahu, dan satu hal yang paling ingin Aku lakukan sebelum waktuku berakhir adalah menyempurnakan separo din ku syah..”, ungkapnya sambil menitikan air mata.
“Kalau bukan karena sudah berjanji, pasti sekarang Aku sudah marah besar padamu Nur. Aku paling tidak suka kamu berkata seperti itu. Kamu akan baik-baik saja, menikah dan hidup bahagia bersama suami dan anak- anakmu, menjadi guru seperti yang kamu inginkan, dan…”, Aku tak sanggup meneruskan kata- kataku. Aku tergugu tak sanggup membendung air mataku.
“Maafkan Aku Syah. Tapi, Aku tahu kalau kamu sedang berbohong. Kamu nggak pernah menjawab setiap kali Aku tanya mengenai penyakitku. Aku tahu kamu sedang menutupi sesuatu dariku..hiks..hiks”
Nurma menangis dan Aku merasa sangat bersalah telah membuatnya begitu.
‘Maafkan Aku juga Nur. Tapi, Aku mohon jangan berkata begitu lagi. Hatiku sangat sakit mendengar kata-kata itu. Kamu akan baik- baik saja.”, Aku memeluknya erat.
“Tenang saja, Insya Allah keinginanmu itu akan segera terwujud.”
“Maksud kamu Syah?”
“Iya, Insya Allah kamu akan segera menyempurnakan separo dinmu.”
“M..m..maksudnya??? tapi siapa yang mau dengan gadis penyakitan seperti Aku ini Syah?”
“Siapa bilang? Insya Allah besok mbak Syifa yang akan menjelaskan langsung padamu?”
“Maksudnya apa Syah?? Kamu buat Aku penasaran?”
“Sudah besok saja, kamu pasti akan senang mendengarnya. Sekarang kita shalat Isya’ dulu. Sepertinya sudah masuk waktunya.”
Biar mbak Syifa saja yang memberitahu kabar gembira itu padanya karena Aku takut tidak mampu mengatakannya sendiri..

***

Hari ini Aku bangun lebih pagi dari biasanya. Aku sengaja bangun lebih pagi, Aku ingin menenangkan diri, membasuh hatiku yang gersang dengan cahaya kasih Tuhanku yang tak akan pernah padam, menjemput ampunan- Nya dengan menyendiri bersama-Nya sembari melantunkan  bait- bait doa dan harapan, dalam balutan dzikir yang khusyuk di sepertiga malam terakhir dari siang yang penuh kesibukkan dan kepenatan yang seringkali membuat Aku lalai untuk bersyukur.

Aku tak mampu menehan lelehan airmataku. Tahajjud yang hening dan damai. Banyak hal yang ingin Aku ceritakan pada-Nya. Segala lika- liku lakonan kehidupan yang tak mungkin dapat kutanggung sendiri, kelelahan dan kesedihan yang menggunung, ketakutan dan kekhawatiran, dosa- dosa, dan …ya Allah, sudilah Engkau mendengarkan Aku, menjadi teman terbaikku baik di saat susah maupun senang…

Ya Allah hari ini adalah hari yang membahagiakan bagi sahabatku Nurma. Betapa tidak, hari ini Ia akan ditemukan dengan calaon suaminya, calon pendamping hidupnya, orang yang akan membantu menyempurnakan separuh diennya serta membawanya dalam kebahagiaan biduk rumah tangga. Aku bahagia ya Allah bahwasanya Nurma akan segera mewujudkan impiannya, menjadi seorang istri dan menyempurnakan separuh agamanya. Hal yang mungkin akan membuatnya melupakan semua derita dan kisah- kisah sedihnya di masa lalu.

Tapi ya Allah, sungguh Engkau maha tahu bahwasanya Aku juga tidak dapat membohongi diriku. Bahwa di sudut hatiku yang lain juga sedang bertapa kesedihan dan kegundahan. Ya Allah apakah mungkin ini hukuman dari- Mu bagiku hamba yang lalai dan kurang menjaga hati. Ya Allah tapi sungguh, Aku sendiri pun tidak pernah menginginkan perasaan ini. Ya Allah Aku tidak pernah memintanya pada-Mu. Aku pun tidak pernah berusaha mempertahankannya.

Ya Allah, Aku bersedih karena orang yang akan menjadi calon suami sahabatku tidak lain adalah orang yang selama ini Aku kagumi, orang yang Aku harapkan akan menjadi suamiku kelak.

Aku sadar ya Allah Aku hanyalah hamba- Mu yang harus menerima dan menjalani segala keputusan- Mu, mau atau tidak , suka atau tidak. Ya Allah tapi Aku yakin akan janji- Mu. Bukankah Engkau selalu beserta orang- orang yang sabar maka ya Allah ikhlaskanlah hatiku atas semua keputusan-Mu ini ya Allah. Sungguh Aku menghendaki kebahagian Nurma di atas kebahagiaanku.  Hadirkanlah kebahagiaan dalam pernikahannya sebagai pengganti dan pengobat luka hatinya. Ikhlaskan Aku ya Allah..

Tanpa sadar waktu subuh telah tiba, kumandang adzan subuh meliputi santero desa membawa ketentraman yang amat sangat. Kulihat Nurma baru saja bangun, wajahnya tampak begitu ceria..

menambah keindahan pagiku,, sungguh pagi yang indah..

***

Senyuman itu,, senyuman yang  begitu indah. Senyuman terindah yang pernah kulihat menghiasi wajah sahabatku, Nurma. Ya, baru saja Ia resmi menjadi seorang Istri, menjadi nyonya  Muhammad Imran Nugroho. Ijab Qabul baru saja selesai diucapkan dan dinyatakan syah oleh penghulu. Tangisan haru mengiringi penegesahan ikatan suci itu. Semua yang hadir menangis haru, termasuk Aku. Aku tak kuasa menahan isak tangisku. Akhirnya impian shahabatku menjadi nyata, menjadi seorang istri dari seorang laki- laki sholeh seperti Imran. Aku tahu betul siapa Nurma, Aku juga tahu siapa Imran. Mereka benar- benar pasangan serasi, yang laki- laki sholeh dan yang wanitanya sholehah.

Tak ada yang bisa kuucapkan selain harapan dan  doa- doa agar kehidupan mereka selalu dinaungi oleh keridhaan Allah dan selalu diselimuti kebahagiaan, menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah.

Kini mereka bersanding bak raja dan ratu di pelaminan. Nurma terlihat sangat bahagia. Sesekali Ia melemparkan senyumannya padaku. Aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan, dari kursi tamu. Air mataku masih menetes, entah kenapa. Aku tidak tahu apa yang sedang kurasakan. Wali dari  kedua belah pihak terlihat duduk  mendampingi kedua mempelai. Dari pihak keluarga Imran diwakili oleh ayah dan ibunya, sedangkan dari pihak Nurma diwakili oleh paman dan bibinya. Nurma memang sudah yatim piatu sejak Ia duduk di kelas 4 Sekolah Dasar. Sejak kecil Ia dan seorang adik laki- lakinya diasuh oleh paman dan bibi yang sering memperlakukan mereka berdua secara tidak manusiawi. Kuharap kehadiran paman dan bibi Nurma  kali ini tidak justru menjadi perusak hari bahagianya ini. Sekilas kulihat wajah Imran, sepertinya Ia juga merasakan kebahagiaan sebagaimana yang dirasakan Nurma. Meski tak banyak senyuman yang Ia lukiskan selama acara berlangsung. Aku tidak tahu kalau Ia juga melihat kearahku dan tanpa sengaja pandangan kami bertemu. Ia melihatku dengan tatapan yang aneh dan Aku sendiri tak mampu medefinisikan arti tatapannya itu. Serta merta Aku membuang pandanganku ke arah lain dan beranjak meninggalkan kursiku menuju tempat jamuan makan. Aku segera beristighfar, Aku tak ingin timbul hal yang tidak- tidak. Aku harus sadar bahwa Imran kini telah menjadi suami Nurma, berdosa jika Aku terus mengharapkannya.

Seusai makan kuberanikan diri untuk sekedar memberikan salam selamat kepada kedua mempelai serta memeberi sedikit pesan dan doa- doa. Aku membersihkan wajahku dari sisa- sisa air mataku tadi, berusaha seceria mungkin. Kemudian kuhampiri mereka berdua yang sedang sibuk menyalami tamu lainnya.

” Sahabatku selamat ya ,, semoga pernikahanmu selalu diberkahi Allah. Semoga dalam kehidupan rumah tanggamu nanti kamu akan menemukan kebahagiaan yang lebih indah yang belum pernah kau rasakan sebelumnya. Jadilah istri yang shalihah. Bersemangatlah untuk melanjutkan hidupmu karena kuyakin perjalananmu masih panjang. walaupun sudah menikah jangan pernah lupa padaku ya karena sampai kapanpun Aku tetaplah sahabatmu.. oh iya,, Aku juga ingin berpamitan padamu, nanti sore insya Allah Aku akan pergi ke bandung untuk mengurus program S-2 ku di sana. Kamu baik- baik disini dan berbahagialah bersama suamimu. Aku janji akan sering- sering menghubungimu untuk menanyakan kabarmu..”

Nurma memelukku erat sambil menangis tersedu- sedu seolah- olah tidak ingin Aku pergi. Ia bertanya mengapa Aku harus pergi secepat itu, Ia ingin agar Aku bisa menemaninya sampai acara selesai. Tapi Aku benar- benar tidak bisa. Aku pun tak kuasa menahan tangis. Kami berpelukan agak lama. Nurma berpesan padaku agar Aku segera menyusul untuk menikah dan Aku hanya bisa menjawabnya dengan senyuman.

” Imran, Aku titip sahabatku. Kuharap kau bisa menjadi imam yang baik bagi dia dan anak- anaknya kelak. Aku minta tolong buatlah agar dia terus bersemangat menjalani kehidupannya. Terimalah dia dengan keikhlasanmu.”

Imran hanya bisa menunduk  tanpa memandangku sedikitpun. Ia hanya mengucapkan kata ” Insya Allah” yang kuharap itu adalah tanda kemantapan hatinya untuk menjalani hidup bersama Nurma.

Kemudian Aku mohon diri kepada mereka berdua. Aku menyeka air mataku yang masih terus mengalir dari sudut mataku. Aku harus segera pulang untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk keberangkatanku ke Bandung sore nanti.

Memulai lembaran baru dan menutup cerita lama yang kelabu..

***

Sudah dua bulan Aku berada di bandung, menjalani program S-2 ku. Sejak kepergianku ke sini, baru tiga kali Aku menghubungi Nurma untuk sekedar menanyakan kabarnya, terakhir sekitar empat hari yang lalu. Aku tidak berani terlalu sering menghubunginya. Aku takut akan menggangu karena Ia kini telah bersuami. Setiap kali kuhubungi Ia selalu bilang bahwa Ia baik- baik saja. Kuharap itu benar, meskipun Aku sendiri belum yakin karena  Aku belum melihatnya sendiri. Kini Aku tidak bisa terus berada disampingnya dan menjaganya seperti dulu.  Aku hanya bisa berharap agar Imran bisa melaksanakan tugasnya dengan baik sebagai suami Nurma.

Sepulang kuliah, seperti  biasa Aku selalu mengunjungi perpustakaan untuk sekadar membaca-baca buku di sana sambil melepas lelah seusai kuliah. Kampus baruku memang jauh berbeda dengan kampus lamaku waktu masih menjalani program S-1. Fasilitasnya jauh lebih menjanjikan bagi mahasiswa dibandingkan kampusku yang lama, termasuk  fasilitas yang ada di perpustakaan. Itulah mengapa perpustakaan menjadi salah satu tempat yang selalu Aku kunjungi ketika ada waktu luang selain mushala. Apalagi sekarang ini Aku sedang sibuk untuk persiapan UAS besok. Kurasa semakin banyak membaca semakin banyak ilmu yang akan ku peroleh.

Saat sedang asyik membaca tiba- tiba saja handphone-ku berbunyi. Sepertinya ada SMS masuk. Kulihat dari mbak  Syifa. Betapa terkejutnya Aku ketika Aku tahu bahwa isi SMS itu tidak lain adalah berita bahwa sekarang Nurma sedang dirawat di rumah sakit dan kondisinya sedang kritis.

Aku hampir seperti orang gila, Aku tak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Satu hal yang pasti adalah Aku harus segera pulang ke Palembang untuk menjenguk Nurma walaupun resikonya Aku harus rela tidak ikut UAS mata kuliah pokok besok dan terpaksa mengulang semester depan.

Tanpa pikir panjang, Aku langsung puang ke kost untuk bersiap- siap pulang ke Palembang sore ini juga.

***

Sesampainya di rumah sakit, mbak Syifa menyambutku dengan tangisan haru. Wajahnya terlihat sedih. ” Alhamdulillah kamu sudah sampai..”, ucap mbak Syifa sambil memelukku erat.

” iya mbak Alhamdulillah, bagaimana keadaan Nurma sekarang mbak dan kenapa penyakitnya bisa kambuh lagi”, tanyaku penasaran.

” Keadaannya masih kritis, mbak sendiri tidak tahu pasti apa penyebabnya karena sebelumnya Ia terlihat baik- baik saja. Imran bilang beberapa saat sebelum Ia pingsan Ia sempat membaca buku yang Ia ambil dari tumpukan  kardus di kontrakan kalian yang lama.  Sejak kemarin Ia terus memanggil- manggil namamu dan matanya terus meneteskan air mata. Karena itu mbak menghubungimu. Mbak berharap kehadiranmu bisa menjadi obat baginya.”

Aku tertegun mendengar cerita dari mbak Syifa. Aku tak tahu buku apa yang telah Nurma baca sehingga membuatnya kambuh seperti ini. ” Apa kata dokter mengenai kondisinya mbak? apakah Ia akan segera sembuh?”

” Dokter belum bisa memastikan apapun, dokter hanya berpesan agar pihak keluarga tetap bersabar melihat kondisi Nurma yang terus memburuk, yang pasti pihak rumah sakit akan berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan Nurma.”

” Apakah Aku boleh melihatnya sekarang mbak? Aku ingin melihat keadaannya..hiks,,hiks”

“Tentu saja. Ayo ikut mbak ke dalam, di dalam ada Imran dan keluarga yang lainnya.”

Betapa sedihnya Aku ketika melihat sahabatku kembali terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit, persis seperti tiga bulan yang lalu. Tapi sekarang ia terlihat jauh lebih kurus. Ya Allah, apakah mungkin penyakitnya kini semakin berat. Senyuman terindahnya yang kulihat dua bulan yang lalu kini telah hilang dari wajahnya. Apa yang sebenarnya terjadi padamu selama Aku pergi wahai sahabatku..?

Imran terlihat setia mendampingi di samping Nurma. Ia terlihat begitu sedih.

Aku meminta izin pada pihak keluarga agar meninggalkan Aku dan Nurma berdua saja dan mereka mengizinkannya dengan senang hati.

Kupegang tangan Nurma, kuelus rambutnya yang halus sambil kupanggil namanya berharap ia akan mendengar dan mau membuka matanya untukku.

Kulihat air matanya menetes dari sudut matanya. Kuusap air matanya sambil terus memanggil namanya. Dalam hati tak henti- hentinya kuberdoa agar Allah segera memberikan kesembuhan bagi sahabatku Nurma.

“Nurma bangunlah, ini Aku Aisyah. Sekarang Aku sudah ada disampingmu. Aku janji akan menunggumu hingga kamu sembuh seperti sediakala,, bangunlah Nurma,, bangun!!”. Air mataku membasahi tangannya yang masih kupegang erat.

Tiba- tiba saja bibirnya bergerak mengucapkan sesuatu. Matanya perlahan- lahan terbuka. Masya Allah keajaiban apa ini?? sekarang Ia telah membuka matanya untukku, terimakasih ya Allah, terimakasih. Matanya terbuka, Ia terlihat sangat lemah. Kudekatkan tubuhku padanya untuk memastikan apa yang baru saja Aku lihat.

“Nurma kamu sudah sadar? ini Aku Aisyah sahabatmu,, sebenarnya apa yang terjadi sehingga kamu jadi seperti ini?”

Ia menatapku lemah. Dari tatapan matanya Aku bisa merasakan bahwa ada banyak hal yang ingin Ia ungkapkan.

“Maafkan Aku Aisyah,, maafkan Aku..” Itulah kata yang pertama kali Ia ucapkan dan kata- kata itu membuatku sangat bingung.

“Maaf untuk apa Nurma? kamu tidak salah apa- apa,, Aku yang minta maaf karena Aku baru bisa datang menjengukmu sekarang,, maafkan Aku sahabat..”

“Maaf karena Aku telah merebut kebahagiaan seorang sahabat sebaik dirimu,, semoga Allah mengampuniku..”

Kata- katanya membuatku semakin bingung. ” Apa maksudmu Nurma? Aku tidak pernah merasa bahwa kebahagiaanku telah kau rebut, tidak sama sekali..”

“Maaf karena Aku terlambat mengetahuinya. Tapi kenapa kau tidak pernah bercerita sebelumnya tentang perasaanmu pada Imran dan mengapa kamu justru merelakannya untuk menikah denganku, gadis yang penyakitan ini sahabat. Aku mohon maafkan Aku..hiks,,hiks”

Mendengar hal itu jantungku rasanya mau copot, air mataku mengalir deras tanpa bisa kubendung sedikitpun. Dari mana Ia tahu hal ini. Demi Allah Aku tak pernah menceritakan hal ini kepada siapapun. ” Apa yang kamu katakan, Aku tidak begitu..”

“Aku mohon jujurlah padaku agar tenang hatiku. Kamu pasti bertanya- tanya dari mana Aku tahu hal itu. Sungguh itu sama sekali bukan salahmu. Aku mohon jujurlah padaku sahabat. Tenangkan hatiku sebelum Aku pergi meninggalkan dunia ini..!!”

Aku tak bisa menjawab apa- apa, hanya air mata yang terus mengalir dari kedua mataku. Aku tak sanggup mendengar kata- kata Nurma. Ia menangis sesenggukan dan berharap agar Aku menjawab dengan jujur pertanyaannya itu. Ya Allah Aku sungguh tak sanggup untuk mengatakannya.

” Aku hanya ingin kamu bahagia, kebahagiaanmu sungguh jauh lebih berarti bagiku daripada perasaan konyolku itu. Aku sama sekali tidak keberatan akan hal itu. Lagi pula itu bukan cinta Nurma, itu hanyalah kesalahanku sebagai manusia yang sering lalai kepada-Nya. Itu sepenuhnya kesalahanku. Aku yang bersalah,, Aku mohon berhentilah menyalahkan dirimu dan segeralah sembuh,, Aku mohon..”

Aku tak sanggup meneruskan kata-kataku, isak tangisku meledak seketika. Jangan-jangan Nurma telah tanpa sengaja membaca catatan di buku diary-ku yang tertinggal di tumpukkan kardus usang di kontrakan lamaku.

“Aku mohon aisyah, maafkanlah Aku. Bagiku kamu adalah sahabat sekaligus saudara terbaik yang Allah berikan untukku. Betapa banyak pengorbananmu untukku yang tak mungkin bisa Aku balas dengan apapun. Aku juga ingin kamu bahagia sebagaimana kamu menginginkan Aku bahagia. Aisyah sahabatku dengarkanlah Aku, Aku tahu Imran juga menyukaimu sebelum hadirnya diriku dalam kehidupannya. Aku bisa melihat itu..”

“Hentikan! dia itu suamimu Nurma jadi jangan pernah berpikiran seperti itu. Ini semua murni kesalahanku dan sekali lagi tidak pernah ada hubungan apa-apa di antara kami.”

“Perasaannya itu bisa kulihat ketika Aku menyebut namamu. Dulu Aku juga pernah mendengar cerita dari mbak syifa bahwa Imran pernah meminta beliau untuk melamarkan seorang gadis sholeha. Dan belakangan aku tahu bahwa gadis itu adalah kamu “Aisyah zaqina”, namun hal itu belum sempat terwujud karena saat itu mbak syifa sedang sibuk skripsi dan beliau pikir Imran hanya main-main. Hingga akhirnya inilah yang terjadi..Aku hadir menjadi penghalang di antara kalian. Maafkan Aku sahabat,, kalian telah rela berkorban demi agar Aku bisa menyempurnakan separuh agamaku di sisa usiaku yang tidak lama lagi..”

Mendengar itu Aku langsung menutup mulutnya dengan tanganku. “Aku tak ingin mendengarnya lagi Nurma. Kau pasti akan sembuh, Aku yakin.. Imran itu milikmu dan akan tetap jadi milikmu. Dia tidak pernah keberatan menikahimu dan Aku.. tidak usah pedulikan Aku. Aku janji padamu setelah kau sembuh Aku akan tunjukkan padamu calon suamiku.. Aku juga kan menyususlmu menyempurnakan separo dinku. Aku sudah tidak ada perasaan apapun pada Imran dan itu sudah sangat lama,, Jadi Aku mohon lupakan semua itu karena Aku pun sudah melupakannya..”, Aku berusaha tersenyum sambil mengelus- elus rambutnya yang kini terlihat semakin tipis bahkan nyaris botak.

“Aisyah sahabatku, Aku punya satu permintaan untukmu dan Aku harap kamu mau mengabulkannya..”

Mendengar hal itu Aku jadi takut, Aku tidak tahu permintaan seperti apa yang Ia ingin agar Aku melakukannya.

“per..permintaan apa itu Nurma?”, ucapku sambil terbata-bata.

“Aku ingin kamu menjadi penggantiku setelah Aku pergi. Menjadi penggantiku untuk mencintai dan menyayangi laki-laki mulia seperti Imran. Demi Allah Aisyah, semenjak menjdi istrinya Aku belum pernah melayani dan melakukan apa yang seharusnya menjadi kewajibanku sebagi istri. Dia justru dengan setia merawatku dengan penuh perhatian tanpa mengeluh sedikitpun. Aku merasa sangat bersalah padanya karena itu sahabatku gantikanlah Aku untuk membahagiakannya jikalau Aku tidak punya banyak waktu untuk membahagiakannya. Dia adalah laki-laki yang sangat baik.”

Aku hanya bisa menangis dan tak mampu mengucapkan apapun. Kutatap matanya yang sayu dan kupaksakan untuk bicara ” Dia itu suamimu, dia mencintaimu, dan tak layak Aku merebut kasihnya. Aku hanya ingin kamu sembuh..”

“Aku mohon..”, Matanya yang berkaca-kaca menatapku tajam. Aku tak sanggup melihatnya, kututup mataku sambil menahan tangis.

to be continue 🙂

Hello world!

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!

Kicau Favorit

kumpulan kicau favorit dari sebelah

"MAS GURU"

Gurumu Sahabatmu

Radiks Teknik Kimia's Blog

Welcome to Radiks Chemical Enginnering information

LDK FSI Nurul Jannah

Menuju keshalihan kaum intelektual

My Blog My Real

Sebuah Catatan Perjalanan Mengejar Mimpi

journalistsociety

Journalist, Humanist, Socialist

keep it simple

imajinasi dan coretan

Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Un2kmU

semuanya hanya untukmu...

Perjalanan Cinta

"Hamemayu Hayuning Bhawono: Menata Keindahan Dunia"

Tahaaduu Tahaabbuu Blog's

Semua penulis akan mati. Hanya karyanyalah yang akan abadi. Maka tulislah sesuatu yang membahagiakan dirimu di akhirat nanti. (Ali bin Abi Thalib)

Liew267's Blog

coret moret

Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Cahyaiman's Blog

"Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu" (Q.S. An Nuur 24:35).